Sipirok adalah kecamatan di tengah
Kabupaten Tapanuli Selatan. Sekarang diposisikan menjadi pusat
pemerintahan kabupaten tersebut. Tapi sejarah Sipirok berusia jauh lebih
panjang dari pengakuan administratif tersebut. Wilayah ini pernah
menjadi salah satu pusat perdagangan cengkeh dan rempah-rempah, pernah
juga menjadi salah satu benteng perjuangan kaum Paderi di Sumatera
Utara, namun juga merupakan wilayah awal perkembangan gereja Protestan
di Suku Batak, sebelum justru berkembang lebih luas di Tapanuli Utara.
Orang mungkin mengenal beberapa nama
seperti penulis masyhur Balai Pustaka, Merari Siregar, tiga Pane (Armijn
Pane dan Sanusi Pane, tokoh sastra dan pergerakan Indonesia, serta si
bungsu Lafran Pane, tokoh pendiri HMI), juga dedengkot gerakan
mahasiswa, Hariman Siregar, sebagai beberapa tokoh kelahiran Sipirok.
Namun itu baru segelintir, ada sejumlah ulama, pendeta, akademisi,
seniman, pejabat pemerintahan serta militer yang berasal dari wilayah
kecil ini.
Akademisi Universitas Medan Area (UMA),
Muda Hutasuhut, pernah menuliskan pengalaman masa kecilnya di salah satu
desa di Sipirok, yaitu Desa Bunga Bondar. Di desa yang juga kampung
halaman gubernur legendaris Sumatera Utara Raja Inal Siregar ini,
kerukunan hidup antar umat beragama sudah lama terjalin dengan baik.
Konon menurut warga, mereka berasal dari
keturunan nenek moyang yang sama. Setelah agama Islam dan agama Kristen
masuk ke desa ini, maka sesuai dengan kepercayaannya masing-masing di
antara penduduk ada yang menganut agama Islam dan yang menganut agama
Kristen. Rumah penduduk yang beragama Islam dengan rumah penduduk yang
beragama Kristen tidak jarang bersebelahan dinding karena pertapakan
rumah yang mereka tempati merupakan warisan dari leluhur yang sebelumnya
merupakan satu kesatuan keluarga.
Wujud kekompakan akan jelas terlihat
terutama pada acara pelaksanaan pesta adat baik dalam acara perkawinan,
meninggalnya anggota keluarga maupun dalam acara sosial budaya. Penduduk
yang berasal dari berbagai komunitas marga dan pemeluk agama yang
berbeda tersebut menyatu dalam kesatuan pesta sesuai dengan kedudukannya
dalam acara pesta.
Pada upacara penguburan, para pemuka
agama Kristen tidak segan-segan untuk ikut dalam prosesi penggalian
kubur, meskipun yang dikebumikan adalah rekan-rekan yang Muslim. Mereka
pun turut memberikan penghiburan pada keluarga yang ditinggalkan.
Sementara hal penanganan akomodasi
makanan yang dipersiapkan untuk penyelenggaraan pesta adat, baik untuk
acara perkawinan maupun acara sosial kemasyarakatan, penanganannya
diserahkan kepada penganut agama Islam walaupun yang memiliki hajatan
adalah berasal dari yang beragama Kristen, mulai dari prosesi pemotongan
hewan untuk acara pesta hingga cara memasak dan pembagiannya.
Sikap yang demikian sudah berjalan
secara turun temurun sehingga penganut agama Islam yakin tentang status
halal makanan yang mereka makan.
Pdt. A.B Marpaung dari Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), pernah berkomentar jenaka terkait kebiasaan tersebut.
“Sejak kecil kalau saya makan ayam, cara potongnya secara Islam. Kalau potong bukan cara Islam, perut saya bermasalah,” ujarnya dalam sebuat testimoni pertemuan kerukunan umat beragama.
Kerukunan di Sipirok memang telah
menyejarah sekian lama. Masjid Raya Sipirok yang berseberangan dengan
HKBP Sipirok (salah satu HKBP tertua yang telah berdiri sejak 156 tahun
lalu) adalah monumen kerukunan yang menyejarah. Menjadi salah satu tapak
unik dalam sejarah perjumpaan agama-agama di Indonesia. Teladan ini
justru begitu baik, meski perlu terus dikembangkan dengan mempertahankan
cirinya.
Sumber Berita: Kolom Waspadamedan.com oleh Muda Hutasuhut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar